ISOLASI
DAN IDENTIFIKASI SENYAWA KARATENOID DARI CABAI MERAH
(Capsicum annuum Linn.)
Neli Oktalia
Lab. Agroindustri dan Tanaman
Obat Prodi. Kimia Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi
ABSTRAK
Cabai
merah (Capsicum annuum Linn.) adalah buah dan tumbuhan anggota genus capsicum
buahnya digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana
digunakan. Pada cabai merah memiliki warna merah yang disebabkan oleh adanya kandungan
karatenoid jenis kapxantin. Kandungan karatenoid pada cabai merah ini dapat
diisolasi dan diidentifikasi dengan proses ekstraksi dengan menggunakan metode
mesarasi menggunakan pelarut yang berbeda yaitu campuran n-heksana:aseton:etanol
(2:1:1) dan dibandingkan dengan campuran aseton:methanol (7:3). Adapun hasil
pemisahan menunjukkan bahwa terdapat pemisahan pada perbandingan pelarut
n-heksana:aseton:etanol sementara pada pelarut aseton:methanol tidak terjadi
pemisahan yang baik. Kemudian hasil ekstraksi karatenoid dengan pelarut
n-heksana:aseton:etanol dipisahkan dengan KLT analitik dengan variasi eluen
diklorometana:heksana (1:9), toluene:heksana(1:9) dan petroleum
eter:aseton:dietilamin (10:4:1). Sehingga selanjutnya diketahui perbandingan
nilai rf dari pemisahan menggunakan plat KLT yaitu jarak noda diklorometana:heksana
tiga noda 0,125, 0,3 dan 0,9 pada toluene:heksana(1:9) tiga noda 0,05, 0,375
dan 0,9875) dan pada eter:aseton:dietilamin tiga noda 0,775, 0,9 dan 0,975.
Kata kunci : Cabai merah (Capsicum
annuum Linn.), Karatenoid, Identifikasi,isolasi,KLT,nilai Rf.
ABSTRACT
Red chili peppers (Capsicum annuum Linn.) Is a fruit and
vegetable members of the genus capsicum fruit were classified as vegetables and
spices, depending on how it is used. On red pepper has a red color caused by
the presence of Carotene kind kapxantin. Ingredients Carotene on red pepper can
be isolated and identified by an extraction process using methods meserasi
using different solvent that is a mixture of n-hexane: acetone: ethanol (2: 1:
1) and compared with a mixture of acetone: methanol (7: 3). The separation
results show that there is a separation in the comparison of n-hexane: acetone:
ethanol while at aston solvents: methanol separation does not occur either.
Then extraction Carotene with n-hexane: acetone: ethanol is separated by TLC analytical variation eluent
dichloromethane: hexane (1: 9), toluene: hexane (1: 9) and petroleum ether:
acetone: diethylamine (10: 4: 1 ). So thereafter known rf value comparison of
separation using TLC plate smudge the distance dichloromethane: hexane three
stains 0.125, 0.3 and 0.9 in toluene: hexane (1: 9) three stains of 0.05, 0.375
and 0.9875) and the ether: acetone: diethylamine three stains 0.775, 0.9 and 0.975.
Keywords:
Red chili (Capsicum annuum Linn.), Carotenoids, Identification, isolation, TLC,
rf values.
PENDAHULUAN
Setiap
tanaman memiliki sumber zat pewarna alami karena mengandung pigmen alam.
Potensi sumber zat pewarna alami ditentukan oleh intensitas warna yang
dihasilkan serta bergantung pada jenis zat warna yang ada dalam tanman tersebut
(Setiadi,2008).Salah satu bahan makanan yang dapat digunakan sebagai zat
pewarna alami adalah cabai merah (Capsicum annuum Linn.) Cabai merupakan
tanaman asli Amerika Tropik cabai
memiliki banyak varietas yaitu cabai merah (Capsicum annuum Linn.), cabai bulat
(Capsicum annuum var.abbreviata), paprika (Capsicum annum var.grosum), cabai
hijau (Capsicum annuum var var.annuum (Setiadi,1994).
Cabai sering
digunakan dalam massakan, selain itu juga menjadi sumber nutrisi yang penting
bagi manusia terutama sebagai sumber vitamin A dan C dan senyawa-senyawa fenol
asam dan netral (Setiadi,1994). Maforimbo (2002) menujukkan bahwa ekstrak cabai
yang mengandung karatenoid, mempunyai aktifitas antioksidan yang tinggi dalam
menghambat reaksi radikal bebas. Cabai merah memiliki warna merah terutama selama
penuaan buah yang berasal darip pigmen karotenoid. Umumnya konsentrasi
karatenoid, asam askorbat, flavonoid, phenolic acids, dan komponen kimia
lainnya yang meningkat dengan meningkatnya umur Lombok kecuali lutein yang
mengalamai penurunan (Susilowati dan Hidayat, 2007).
Karotenoid banyak
terdapat pada jenis buah-buahan berwarna merah seperti cabai merah, tomat,
paprika pada penelitian Mahardian(2003) menunjukkan bahwa karatenoid terdapat
pada buah tomat berwarna merah yaitu terdapat yaitu trdapat senyawa likopen,
xantofil dan α-karoten dari hassil identifikasi. Penelitian lain yaitu dengan
buah tomat tapi dengan pelarut yang berbeda menunjukkan hasil lain yaitu
β-β-karoten, β-zeakaroten, neurosprene, β- -karoten dan likopen (Britton,1995).
Mndez dan Mosquera (2002) mengekstrak capsicum annum cv memisahkan karatenoid dengan KLT menggunakan
pelarut aston, kemudian dipisahkan dengan eluen PE:aseton: dietil amin
menunjukkan senyawa yang terkandung yaitu cucurbitaxantin A, zeaxastin dan
lutein.
Berdasarkan uraian
diatas perlu dilakukan penelitian terhadap cabai merah diindonesia (Capsicum
annuum L.) dengan menggunakan variasi pelarut dan eluen untuk mengetahui
banyaknyak karatenoid yang terkandung didalam cabai merah tersebut.
BAHAN
DAN METODE
Bahan
Penelitian
Bahan utama
penelitian yang digunakan yaitu cabai merah keriting dan n-heksana, aseto,
etanol, methanol, diklorometana, toluene, Petroleum eter, dietil amin, Aquades,
silica gel, kertas saring dan NaCl.
Alat
Penelitian
Peralatan yang
digunakan adalah neraca analitik, Erlenmeyer yang telah dilapisi aluminum foil,
shaker, corong pisah, penyaring vacuum Buchner, gelas kimia, gelas ukur.
PROSEDUR
KERJA
Preparasi
Sampel
Cabai merah segar
dibersihkan dengan dibuang bijinya dipotong kecil-kecil kemudian cabai
ditimbang sebanyak 100 gr lalu diblender dengan ditambah akuades sehingga
menjadi jus cabai (Mahardian,2003)
Ekstraksi
Karotenoid dari Cabai Merah
Proses
ekstraksi dilakukan dengancepat dan diusahakna tidak terkena sinar cahaya
diminimalisasi dengan penggunaan aluminium foil sebagai pelapis wadah agar
karotenoid dalam cabai merah tidak
terjadi kerusakan akibat oksidasi dan fotooksidasi.
Jus
cabai merah sebanyak 100 gr dimasukkan ke dua buah labu Erlenmeyer yang telah
dilapisi aluminum foil labu Erlenmeyer pertama dimasukkan 50 gr jus cabai
kemudian ditambahkan 100 mL campuran n-heksana:aseton:etanol (2:1:1), lalu
dikocok kemudian disaring dan diambil filtratnya selanjutnya untuk labu
Erlenmeyer yang kedua jus cabai sebanyak 50 gr kemudian ditambahkan 100 ml
campuran aseton:methanol (7:3) kemudian didiamkan selama 30 menit selanjutnya
disaring dengan penyaring vacuum Buchner filtrate hasil dari penyaringan dimassukkan
ke dalam labu Erlenmeyer yang telah dilapisi aluminum foil selanjutnya disimpan
selama 2 hari.
Filtrat yang telah
disimpan kemudian dimasukkan kedalam corong pisah dengan ditambah 15 ml akuades
selanjutnya didiamkan hingga terbentuk lapisan n-heksan berwarna merah dan air
kemudian dpisahkan. Kemudian hasil pemisahan tersebut diukur volumenya.
Pemisahan
Karotenoid dengan Kromatografi Lapis Tipis
Ekstrak dari sampel
dilakukan pemisahan dengan menggunakan KLT analitik menggunakan plat silica
dengan ukuran 1x5 cm dengan garis tepi bawah dan atas yaitu 0,5 cm. Fasa gerak
yang digunakan adalah diklorometana:heksana (1:9), toluene:heksana(1:9) dan
petroleum eter:aseton:dietilamin (10:4:1).
Ditotolkan hasil ekstrak pada plat KLT pada jarak 0,5 cm dari garis tepi
bawah dengan menggunakan pipa kapiler, kemudian dimasukkan kedalam bejana yang
telah berisi eluennya selanjutnya diamati pemisahan sampai garis tepi atas.
Analisis
data KLT
Analisis data pada
KLT dilakukan secara deskriftif dan dengan penghitungan nilai rf yang didapat.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Pada
isolasi karatenoid dari cabai merah keriting menggunakan proses ekstraksi
dengan metode meserasi, digunakan metode mesarasi karena senyawa karatenoid
tidak tahan terhadap panas sehingga akan mempengaruhi hasil karatenoid yang
akan didapatkan, pada tahap preparasi sampel digunakan blender tujuannya untuk
memperhalus sampel sehingga pada tahap ekstraksi senyawa karatenoid lebih cepat
keluar karena pada proses ekstraksi luas permukaan sampel yang diekstrak akan
sangat berpengaruh terhadap hasil dari ekstrak sampel yang digunakan.
Selanjutnya pada
proses ekstraksi digunakan alat erlenmeyer yang diselubungi dengan aluminum
langsung hal ini dilakukan untuk
menghindari kontak langsung antara ekstrak cabai dengan cahaya matahari
sehingga akan terjadi kerusakan pada pigmen karotenoid akibat oksidasi dan
fotooksidasi oleh panas dari cahaya matahari. Pelarut yang digunakan yaitu
n-heksana:aseton:etanol (2:1:1) dan aseton:methanol (7:3) kemudian waktu yang
digunakan untuk mesarasi adalah 10 menit selanjutnya dishaker dengan kecepatan
140rpm pada proses shaker digunakan untuk mempercepat proses kontak antara
sampel dengan pelarut, kemudian dilakukan penyaringan dengan dengan buchner
pada proses penyaringan diperoleh filtrate berwarna merah jingga hal ini
mengindikasikan bahwa pada filtrate tersebut terdapat karotenoid.
Kemudian
kedua hasil dari filtrate penyaringan pemisahan disimpan ditempat gelap selama
2 hari selanjutnya dilakukan proses pemisahan dengan corong pisah filtrat pekat
hasil dari penyaringan dimasukkan kedalam corong pisah kemudian ditambahkan
akuades 15 ml penambahan akuades menyebabkan terbentuknya dua fasa yaitu fasa
air(aseton:etanol:air) dan fasa n-heksana. Pada fasa n-heksana mengandung ekstrak
kasar senyawa karatenoid karena karatenoid berinteraksi dengan senyawa
karatenoid cenderung larut sempurna pada pelarut nonpolar sehingga saat
ditmbahkan pelarut polar air akan menarik pelarut polar lain seperti etanol dan
aseton dan karatenoid yang larut pada pelarut nonpolar akan tertarik pada
pelarut nonpolar yaitu n-heksana.
Gambar
1.
Proses pemisahan senyawa karotenoid pelarut n-heksana dan pelarut air
Berikut disajikan jumlah
pemisahan pada senyawa karatenoid dengan 2 variasi pelarut:
Tabel
1.Pemisahan
dengan corong pisah pada senyawa karotenoid
|
Pelarut
|
Jumlah
pemisahan karotenoid(mL)
|
|
n-heksana:
aseton:etanol
(2:1:1)
|
6
mL
|
|
aseton:methanol
(7:3)
|
0
mL
|
Pada
pemisahan dengan pelarut aseton:methanol (7:3) tidak terjadi pemisahan hal ini
dikarenakan lamanya waktu pemisahan yang dilakukan, aseton:methanol berdasarkan
rujukan sebelumnya telah dikatakan sebagai pelarut yang buruk sehingga dengan
waktu penyimpanan dalam waktu 2 hari tersebut karatenoid yang ada tidak dapat
terpisah. Hal ini juga disebabkan sifat karotenoid yang hanya dapat terlarut
sempurna pada pelartu nonpolar sementara pada pelarut aseton (polar) dan juga
methanol (semipolar) karotenoid yang ada tidak dapat terpisah dengan maksimal
saat ditambahkan air.
Sehingga kemudian hasil
pemisahan pelarut dari n-heksana:aseton:etanol (2:1:1) sebanyak 6 mL diambil
untuk dilakukan tahap identifikasi dengan KLT analitik menggunakan plat silica.
Pada proses pemisahan dengan plat silica digunakan beberapa variasi eluen yaitu
diklorometana:heksana (1:9), toluene:heksana(1:9) dan
petroleumeter:aseton:dietilamin(10:4:1) dilakukan variasi eluen digunakan untuk
mendapatkan eluen terbaik dalam pemisahan senyawa karotenoid yang terkandung
dalam cabai merah.
Gambar
2.
Proses pemisahan dengan plat silica
Tabel
2.
Nilai Rf pada hasil kromatogram dengan variansi eluen
|
Variasi eluen
|
Nilai rf dari masing-masing pelarut
|
|
|
n-heksana:
aseton:etanol (2:1:1)
|
aseton:
metanol (7:3)
|
|
|
Dikloro metana:
heksana(1:9)
|
Noda 1,Rf:0,125
Noda 2,Rf:0,3
Noda 3,Rf:0,9
|
-
-
-
|
|
toluene:heksana
(1:9)
|
Noda 1,Rf:0,125
Noda 2,Rf:0,375
Noda 3,Rf:0,987
|
-
-
-
|
|
Petroleumeter:aseton
:dietilamin (10:4:1)
|
Noda 1,Rf:0,775
Noda 2,Rf:0,9
Noda 3,Rf:0,975
|
-
-
-
|
Dari
tabel diatas menunjukkanbahwa pemisahan yang paling baik yaitu pada Petroleum
eter:aseton:dietilamin (10:4:1) menghasilkan 3 noda dengan nilai Rf dimulai
dari 0,775 pada eluen ini digunakan 3 pelarut yaitu 2 diantaranya bersifat nonpolar yaitu petroleum eter dan
aseton sehinggga kemapuan untuk mengekstrak pelarut nonpolar yaitu karotenoid lebih besar sementra dua eluen
yang lain hanya menggunakan satu pelarut nonpolar sehingga pemisahannya kurang
baik. Pada hasil pemisahan dengan plat silika didapat tiga noda di tiga eluen
yang berbeda artinya terdapat 3 senyawa yang terdapat pada cabai merah
keriting, 3 senyawa ini dapat diidentifikasi dengan lanjutan perlakuan
spektrofotometer uv-vis sehingga dapat dikarakterisasi senyawa lebih lanjut.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa senyawa karotenoid dapat diisolasi dengan proses ekstraksi
menggunakan metode meserasi dengan pelarut yang paling baik digunakan adalah
pelarut n-heksana:aseton:etanol (2:1:1) dan eluen dari KLT analitik yang paling
baik digunakan adalah Petroleum eter:aseton:dietilamin (10:4:1) terjadi
pemisahan noda yang baik dengan 3 noda dan dimulai dari nilai rf yang tinggi
yaitu Rf 1:0,775,Rf 2:0,9, Rf 3 :0,975,
dengan didapat 3 noda ini mengindikasikan bahwa terdapat tiga senyawa
pada karatenoid yang didapat untuk mengidentifikasi senyawa ini dengan
perlakuan lanjutan yaitu dengan spektrofotometer UV-Vis.
DAFTAR PUSTAKA
Maforimbo,E.2002. Evaluation of
Capsicum as a source of natural antioxidant
in preventing rancidity in sunflower oil. The journal of food Technologyin Africa.Vol.7.
Mendez, D.H. and Mosquera, M. I. M.
1998. Isolation And
Identification Of The Carotenoid Capsolutein From Capsicum Annuum As
Cucurbitaxanthin A. Journal
Agric. Food Chem., 46 (10), 4087 -4090.
Setiadi.1994.Bertanam Cabai. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Setiadi.2008. Cabai Rawit Jenis dan Budaya. Jakarta: Penebar swadaya.
Susilowati.2008. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Karatenoid dari Cabai Merah (Capsicum
annuum L.).Skripsi Universitas Islam Negeri Malang.
Terimakasih semoga bermanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar